WANTED : LALANG
Lama pula saya tak sua dengan rekan jackpot Klimping itu. Setahu saya dahulu kala, kedua begundal (meniru julukan dari Eclid) memang akrab nan intim banget. Asu, wedhus, bajingan dan lain-lain adalah bahasa keakraban mereka. Sungguh tidak sedap bagi telinga orang yang tuli, budi, saliwang dan sejenisnya.
Terakhir saya bersua Lalang di jalan Babarsari tahun 2005. Matahari masih mengintai, belum berani garang mengganyang Kota Budaya. Di kala itu dia memberi tahu saya sambil memperlihatkan beberapa lembar kertas (BoQ), bahwasannya dia sedang sibuk dengan proyek sipil senilai sekian milyar rupiah di suatu daerah di Jawa. Bukan membangun patung pahlawan-pahlawan jackpot ataupun patung orang-orang PASTI yang dibanggakan oleh kampus UAJY. Tangannya tidak lepas dari HP merek Nokia tipe 6600. Sebentar-sebentar dia mengirim sesuatu sembari ngobrol.
Saya salut ketika itu, apalagi dia juga bercerita tentang proyek-proyek sipil yang telah dikerjakannya dengan meraup keuntungan bersih melebihi angka
Wuih! Rupanya Lalang sudah menjadi seorang Sipilis sejati dengan proyek-proyek yang luar biasa, meskipun waktu itu fisiknya belum memperlihatkan perubahan yang signifikan. Cuma pakaiannya yang sudah menampilkan warna kesuksesannya. Baju kaos berkerah, celana jins baru, sepatu kulit mengkilat, dan sebuah tas (mungkin berisi laptop). Rambutnya dicukur pendek dan sangat rapi. Semerbak aroma parfum terumbar darinya seperti seorang sales parfum atau malah mandi parfum setiap hari.
Itulah terakhir kali saya bersua dengan Lalang sampai akhirnya saya kembali ke
Suatu hari saya dikagetkan oleh sebuah email darinya. “Noy, bagaimana caranya lepas dari serbuan penagih dari supplier-supplier? Aku sudah empat bulan ini menunggak pembayaran semen, batu kali, batu split, bata, besi, keramik, dan asesories ini-itu. Mana mandor-mandor pun belum bisa kubayar sesuai opname. Empat bulan ini tagihan-tagihan termijn di beberapa proyekku sedang tidak jelas kapan waktu pembayarannya. Jackpot dan bursa bola sedang susah kutembus. Untuk sementara HP-ku tidak aktif demi menjaga stabilitas dan keamanan-pertahanan nasional. Tolonglah aku, Noy,” begitu emailnya tertanggal Mar-22-2007.
Saya tidak membalas emailnya lantaran saya belum pernah mengalami masalah segawat itu. Saya bukan pahlawan, bukan juruselamat. Saya tak usah susah-susah berpura-pura menjadi konsultan keuangan. Namun beginilah realita, Lalang yang saya ketahui memiliki ilmu menghilang tingkat tinggi itu (terbukti sukar dideteksi memakai gelombang elektromagnetik maupun selulerik), ternyata tetap harus menghadapi kenyataannya bahwa dia tak bisa menghilangkan persoalan hidup kekiniannya dalam bayang-bayang dept collector.
Menjelang jumpa-litan dalam KOPDAR akhir November 2008 silam, saya pernah berbincang dengan Shintinx perihal Lalang, Shintinx menjawab, “Kalau ekonomi Lalang kembali normal dan berprospek positif, dia pasti akan menelponku karena pesanku padanya jikalau hendak menghubungiku yakinkanlah dulu bahwa dirimu sudah makmur semakmur-makmurnya.”
Saya tak terlalu yakin bahwa Lalang sedang terimbas persoalan crisis of global’s financial sehingga minder menghubungi Shintinx dan memberikan nomor telpon yang bisa dihubungi rekan-rekan, kendati spekulasi-spekulasinya (baca: gambling-gambling) seringkali meleset.
Yang membuat saya semakin tak yakin atas fitnahan Shintinx yang semena-mena tadi adalah berita dari Raja Gobes, “Lalang (yg katanya skrg agak gemuk ini), rupanya hendak memulai hidup baru, menjauhi jekpot dan sejenisnya. Aku hanya tertawa (krn dia tdk ketemu aku hi..hi..). Jadi sbg klarifikasi atas berbagai tudingan terhadap kawan saya Lalang, saya sampaikan bahwa Lalang dlm kondisi baik, sehat, dan tidak sedang dikejar tukang kredit, tukang2, maupun suplier. dia sedang liburan natal di jogja. Tolong bisa dipahami juga kalau henpon genggamnya hilang, termasuk keberadaanya yg seperti sinyal operator gsm di
Fiuh!
Salam dari Sungailiat,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar