Beberapa puluh tahun silam Bung Karno pernah berfatwa atau yang lebih terkenal dengan akronim
Jas Merah, “JAngan Sekali-sekali MElupakan sejaRAH!”
Barangkali tulisan mengenai Yohanes Widodo kali ini bakal menuai polemik maupun cemooh dari kalangan sejarawan, budayawan, ilmuwan, sastrawan, karyawan, pahlawan, punakawan, dan seluruh keluarga dari dinasti Wan termasuk hewan dan sariawan lantaran mengusung nama besar sebuah kerajaan besar masa silam.
Apa boleh buat. Dewasa ini penulisan sejarah tidak bisa lagi dimonopoli dan didominasi oleh penulis-penulis usang yang terperangkap dalam kitab suci sejarah nasional Indonesia, bahkan ada yang diam-diam menulis “his story” atasnama history, semisal film Serangan Fajar dari kisah Serangan Umum 1 Maret 1949, atau intinya sebuah distorsi historis yang miris.
Sejarah nasional adalah milik seluruh bangsa, bukan property segelintir kalangan yang lantas dengan lantang meng-klaim sebagai pemilik tunggal atas segala sesoeatoe mengenai hal-hal daripada sedjarah maoepoen pengembangan segenap daripada penemoean-penemoean jang mana kemoedian dapat dikoeasai oleh pihak-pihak asing jang sangat meroegiken daripada kemadjoean berfikir boemipoetra..
Nah, agar-suapaya tidak berpanjang prolog, silahkan menyimak tulisan berikut ini.
A. Sejengkal Sejarah Usang
Sekitar abad ke-7 Masehi (tahun 650 Masehi) seorang utusan dari Raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanaga datang ke Jawa Dwipa untuk menyampaikan berita kepada leluhur Yohanes Widodo, bahwasannya leluhur Dodo mendapat beasiswa dari Kerajaan Sriwijaya, dan dipersilahkan datang-belajar langsung di bawah bimbingan Maha Guru Sakyakirti. Biaya akomodasi dan segala kebutuhan pokok ditanggung sepenuhnya oleh Raja Sriwijaya.
Pada masa awal keemasan Kerajaan Sriwijaya itu Maha Guru Sakyakirti sangat terkenal hingga ke pelosok Tiongkok Kuno. Kalau orang-orang mau bersusah-payah menuntut ilmu sampai ke Negeri Tembok Naga, justru pada jaman Dinasti Tang Sriwijaya menjadi salah satu tujuan studi tingkat lanjut bagi pelajar-pelajar di Tiongkok Kuno. Leluhur Dodo pun memahami ketenaran Sriwijaya dalam dunia pendidikan tinggi, meski selama itu mereka hanya berkhayal untuk belajar ke Sriwijaya..
Maka kesempatan melanjutkan studi secara gratis-bergengsi-bermutu tersebut langsung disambar mentah-mentah oleh leluhur Dodo. Lantas berangkatlah mereka bersama utusan Kerajaan Sriwijaya tadi menuju Swarnadwipa, tempat berhegemoninya Kerajaan Sriwijaya, tepatnya di sekitar Sungai Ampar (kini wilayah Provinsi Jambi). Perjalanan yang akan ditempuh dalam waktu berminggu-minggu bahkan rawan perang kerajaan kecil, tidak merintangi semangat leluhur Dodo untuk berangkat. “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung,” begitulah kira-kira slogan keberangkat mereka.
Benarlah adanya berita dan kesempatan itu. Baginda Dapunta Hyang Sri Jayanaga telah menunggu di istana, walaupun jelas sekali tanpa sajian empek-empek kapal selam dan tari Lilin. Suatu kebanggaan yang sangat luar biasa tentunya. Dan leluhur Dodo mendapat fasilitas sesuai yang tertulis dalam Surat Keputusan Pemberian Beasiswa. Ini pun yang semakin membuat mereka bersemangat untuk tekun belajar hingga berhasil meraih prestasi-prestasi akademis yang sangat mencengangkan banyak kalangan akademisi, baik dri dalam negeri Sriwijaya maupun seluruh dunia..
Atas ketekunan, prestasi cemerlang, dan perilaku leluhur Dodo yang baik, Raja Sriwijaya memberi hak penuh untuk menetap sekaligus bekerja di kerajaan itu. Sudah barang tentu pemberian istimewa Raja berdampak negatif di sebagian kalangan bangsawan Sriwijaya. Iri hati, kasak-kusuk, fitnah, hasutan, dusta, tekanan psikologis maupun ancaman kekerasan pun menjalar liar mirip penyakit sampar. Guna menghindari konflik internal agar tidak semakin krusial dalam istana, leluhurnya berniat mengungsi ke Palembang.
Harus punya argumentasi cerdas dan pro-perdamaian demi ketentraman bersama. Hal ini disadari secara murni dan konsekuen oleh leluhur Dodo. Maka disusunlah suatu alasan tersistematika secara intelek-rasional-aktual. “Kami berniat belajar membuat empek-empek canggih di Palembang sekaligus membuat formula-formula mujarab agar nantinya empek-empek kapal selam bisa diakui dunia sebagai makanan wajib bagi keluarga kerajaan di seluruh penjuru dunia, Tuanku Baginda Raja,” begitu inti permohonan mutasi ke Palembang yang disampaikan secara lisan kepada Raja Sriwijaya .
Setelah lebih sepuluh kali purnama bercermin di permukaan sungai Ampar, Raja terpaksa mengabulkan permohonan mutasi tempak kerja tadi tapi dengan satu syarat mengikat: harus tetap bekerja sebagai bagian dari kepanjangan kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Untuk itu Raja pun membuat Surat Keputusan mengenai Perpindahan Domisili bagi leluhur Dodo, dan surat sakti tersebut berlaku kekal-kemekal sebagaimana pula keputusan raja tidak bisa diganggu gugat. Surat keputusan tersebut memang terbukti sakti hingga kemudian Kerajaan Sriwijaya dikendalikan oleh raja-raja berikutnya, misalnya Balaputradewa, Hsi-Shi, Sri Sudamaniwarmadewa, Marowijayottunggawarman, Sanggramawijayattunggawarman, dan seterusnya
Palembang ternyata lebih memberikan kontribusi penting bagi leluhur Dodo. Di kota tepian sungai Musi itu leluhur Dodo memperdalam ilmu di bidang budidaya ikan Blida beserta mutasi genetika hingga tercipta spesies blido yang unggul. Tak hanya itu, mereka pun bernanak-pinak turun-temurun di sana. Komunikasi dengan Raja Sriwijaya beserta kerabatnya via telepati tetap terjalin, rutin dan harmonis. Tak ayal loyalitas semacam itu menjadi teladan bagi keturunan-keturunan leluhur Dodo.
Pada abad ke-9 Masehi, keturunan leluhur Dodo mendapat tawaran belajar ke luar negeri, tepatnya India. Di sana ada sebuah perguruan tinggi yang sangat terkenal, yaitu Nalanda. Bagi mahasiswa dari Sriwijaya, penguasa setempat, yakni Raja Dewa Paladewa telah menyediakan asrama beserta fasilitas terlengkapnya. Seperti yang telah dilakukan Raja dengan mengirim banyak bhiksu ke sana, Raja Sriwijaya Balaputradewa pun menugaskan leluhur Dodo. Selain untuk memperdalam ilmu, juga untuk membangun vihara sekaligus mengelolanya.
Akan tetapi leluhur Dodo tidak langsung menerima tawaran tersebut, malah memohon, “Sekiranya kelak keturunan kami memiliki kepandaian yang mengagumkan Tuanku Baginda Raja Balaputradewa, perkenankanlah kiranya keturunan kami itulah yang kelak melaksanakan tugas suci yang Tuanku Baginda Raja Balaputradewa berikan saat ini.”
Mendengar penolakan secara rendah hati tersebut, Raja Balaputradewa terpaksa menerimanya. Sebab, bagaimanapun, leluhur Dodo masih menunjukkan sikap hormat dan taat melalui penyerahan keturunanannya kelak yang akan mengemban tugas itu. Untuk mengikat sikap penuh pengabdian tersebut Raja membuat Surat Keputusan yang isinya antara lain, “Apabila kelak ada salah seorang keturunannya (leluhur Dodo) memang pandai dan cakap, diwajibkanlah kepada raja untuk mengirimkannya belajar ke luar negeri.” Setelah menerima salinan surat tersebut, leluhur Dodo pulang dengan penuh harapan.
Tetapi ada satu hal rupa-rupanya tanpa pernah diketahui sejak raja terdahulu, yaitu Dapunta Hyang Sri Jayanaga, hingga keturunannya ke-sekian bahkan oleh sang guru besar berikutnya, yaitu Dharmakirti, bahwa dalam keseharian di rumah dalam lingkungan kerajaan maupun setelah tinggal di Palembang leluhurnya tetap bertradisi Jawa serta menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi antar anggota keluarga. Kata pujian khas sehari-hari, “Kampang!” selalu tereduksi menjadi sedemikian halus dan bermartabat, yakni “Asu”.
B. Sekilan Sajalah Sekarang
Yohanes Widodo alias Dodo alias Mas Boi sudah kembali ke tanah air, khususnya Palembang. Namun berita studi lanjutnya ke luar negeri pasti sangat diingat oleh sekian juta penduduk dunia. Negeri Kincir Angin, Negeri Keju, Negeri Tulip, Negeri Segudang Dam, dan entah apalagi julukannya, tempat Dodo pernah berstudi tingkat pascasarjana hingga berhasil menggondol gelar Master. Bukan Master of Monster, tentunya.
Mengenai studi tingkat lanjut dan beasiswanya, seharusnya merupakan bagian dari sebuah kilas balik atas sejarah para leluhurnya karena sesungguhnya bukanlah berita baru yang patut dihebohi oleh khalayak seantero jagad lelembut. Sejarah berabad-abad terulang lagi, seperti yang telah tertulis.
Dalam kitab sejarah nasional Indonesia, pernah disebut-sebut adanya prasasti berjudul “Prasasti Nalanda”. Nalanda adalah nama sebuah perguruan tinggi terkenal di India pada abad ke-9 seperti yang telah tertulis dalam tulisan tadi. Ternyata masa silam dalam abad-abad usang menjelma dalam realitas mutakhir. Yohanes Widodo melanjutkan studi ke Belanda.
“Nalanda itu jaman baheula banget. India, Bollywood, nehi-nehi. Jaman asu sampai ke bulan ini, nama yang identik dengan Nalanda adalah Belanda,” kata Dodo membari memamerkan surat pengabulan hak beasiswanya. Sebenarnya alasan itu terlalu kamuflatis, jika sudi membuka kitab kuno leluhurnya. Ada semacam upaya untuk menyembunyikan kearifan penguasa masa silam sekali.
Perhatikan kata “Belanda” dan “Nalanda”, seperti kata “Bangka” yang berasal dari kata “Vangka” atau “Wangka” (bahasa Sansekerta) yang terpahat pada Prasasti Kota Kapur (Sriwijaya Foundation, 686 M). Suku kata pertama, “Be-” dan “Na-“ memang berbeda, namun dua suku kata di belakangnya sama, “-landa”. Tidak mustahil leluhur Dodo sudah memiliki visi jauh (12 abad!) perihal pendidikan tingkat lanjut yang kelak akan dialami oleh keturunan mereka.
Yang tak kalah menariknya, seorang ahli bahasa hantu juga pernah membedah korelasi antara kata “Belanda” dan “Nalanda”. Dari penelitiannya mengenai kata tersebut dia menemukan bahwa “NALANDA” ternyata sebuah akronim dari “Nedherland ALias BeLANDA”. Apakah memang memiliki korelasi historis-fiktif, ataukah sebuah kebetulan belaka? Tentu saja hal tersebut tidak usah susah-susah dicari benang merahnya karena cuma suatu kepercumaan.
C. Sejengkol Sejigong
Dari abad ke-7 hingga abad ke-21 sekarang, atau selama 14 abad, tidak patut dianggap sebagai sebuah perjalanan sejarah yang singkat apalagi instan. Dalam sejarah leluhur Dodo, prediksi, proyeksi, prospeksi dan visi-de javu telah menjadi semacam diskusi keluarga besar. Sesuatu yang biasa dalam ramalan para pemikir, misalnya Aristoteles, Socrates, Plato, dan lain-lain yang menulis sesuatu yang bersifat abadi.
Yohanes Widodo, Palembang, Belanda, Sriwijaya, Nalanda, dan asimilasi historis-fiksi telah menjadi ikon sejarah penting bagi dinasti FISIP UAJY abad ke-20. Penemuan situs-situs maya semacam ini kiranya lumayan manjur untuk mengobati kejengkolan sebagian kalangan pemuja masa lampau atas raipnya situs-situs arkeologis yang tidak pernah mencantumkan nama Yohanes Widodo beserta para leluhurnya. Alangkah disayangkan sekiranya perjalanan hidup menyejarah manusia akhirnya harus tunduk kepada alam, kondisi mentalitas, situasi sosial sekitar, kutu kertas, dan lain-lain sehingga merusak kronologis biografis manusia itu sendiri. Semoga tidak menjangkiti arsip-arsip dan dokumentasi hidup seorang Yohanes Widodo.
*******
Gang Jablay, Februari 2009
*) Jelas sekali tulisan ini murni versi Agustinus “Gus Noy” Wahyono, yang bukan ahli sejarah!