Barangkali tulisan mengenai Yohanes Widodo kali ini bakal menuai polemik maupun cemooh dari kalangan sejarawan, budayawan, ilmuwan, sastrawan, karyawan, pahlawan, punakawan, dan seluruh keluarga dari dinasti Wan termasuk hewan dan sariawan lantaran mengusung nama besar sebuah kerajaan besar masa silam.
Apa boleh buat. Dewasa ini penulisan sejarah tidak bisa lagi dimonopoli dan didominasi oleh penulis-penulis usang yang terperangkap dalam kitab suci sejarah nasional
Sejarah nasional adalah milik seluruh bangsa, bukan property segelintir kalangan yang lantas dengan lantang meng-klaim sebagai pemilik tunggal atas segala sesoeatoe mengenai hal-hal daripada sedjarah maoepoen pengembangan segenap daripada penemoean-penemoean jang mana kemoedian dapat dikoeasai oleh pihak-pihak asing jang sangat meroegiken daripada kemadjoean berfikir boemipoetra..
Nah, agar-suapaya tidak berpanjang prolog, silahkan menyimak tulisan berikut ini.
A. Sejengkal Sejarah Usang
Sekitar abad ke-7 Masehi (tahun 650 Masehi) seorang utusan dari Raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanaga datang ke Jawa Dwipa untuk menyampaikan berita kepada leluhur Yohanes Widodo, bahwasannya leluhur Dodo mendapat beasiswa dari Kerajaan Sriwijaya, dan dipersilahkan datang-belajar langsung di bawah bimbingan Maha Guru Sakyakirti. Biaya akomodasi dan segala kebutuhan pokok ditanggung sepenuhnya oleh Raja Sriwijaya.
Pada masa awal keemasan Kerajaan Sriwijaya itu Maha Guru Sakyakirti sangat terkenal hingga ke pelosok Tiongkok Kuno. Kalau orang-orang mau bersusah-payah menuntut ilmu sampai ke Negeri Tembok Naga, justru pada jaman Dinasti Tang Sriwijaya menjadi salah satu tujuan studi tingkat lanjut bagi pelajar-pelajar di Tiongkok Kuno. Leluhur Dodo pun memahami ketenaran Sriwijaya dalam dunia pendidikan tinggi, meski selama itu mereka hanya berkhayal untuk belajar ke Sriwijaya..
Maka kesempatan melanjutkan studi secara gratis-bergengsi-bermutu tersebut langsung disambar mentah-mentah oleh leluhur Dodo. Lantas berangkatlah mereka bersama utusan Kerajaan Sriwijaya tadi menuju Swarnadwipa, tempat berhegemoninya Kerajaan Sriwijaya, tepatnya di sekitar Sungai Ampar (kini wilayah Provinsi Jambi). Perjalanan yang akan ditempuh dalam waktu berminggu-minggu bahkan rawan perang kerajaan kecil, tidak merintangi semangat leluhur Dodo untuk berangkat. “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung,” begitulah kira-kira slogan keberangkat mereka.
Benarlah adanya berita dan kesempatan itu. Baginda Dapunta Hyang Sri Jayanaga telah menunggu di istana, walaupun jelas sekali tanpa sajian empek-empek kapal selam dan tari Lilin. Suatu kebanggaan yang sangat luar biasa tentunya. Dan leluhur Dodo mendapat fasilitas sesuai yang tertulis dalam Surat Keputusan Pemberian Beasiswa. Ini pun yang semakin membuat mereka bersemangat untuk tekun belajar hingga berhasil meraih prestasi-prestasi akademis yang sangat mencengangkan banyak kalangan akademisi, baik dri dalam negeri Sriwijaya maupun seluruh dunia..
Atas ketekunan, prestasi cemerlang, dan perilaku leluhur Dodo yang baik, Raja Sriwijaya memberi hak penuh untuk menetap sekaligus bekerja di kerajaan itu. Sudah barang tentu pemberian istimewa Raja berdampak negatif di sebagian kalangan bangsawan Sriwijaya. Iri hati, kasak-kusuk, fitnah, hasutan, dusta, tekanan psikologis maupun ancaman kekerasan pun menjalar liar mirip penyakit sampar. Guna menghindari konflik internal agar tidak semakin krusial dalam istana, leluhurnya berniat mengungsi ke
Harus punya argumentasi cerdas dan pro-perdamaian demi ketentraman bersama. Hal ini disadari secara murni dan konsekuen oleh leluhur Dodo. Maka disusunlah suatu alasan tersistematika secara intelek-rasional-aktual. “Kami berniat belajar membuat empek-empek canggih di
Setelah lebih sepuluh kali purnama bercermin di permukaan sungai Ampar, Raja terpaksa mengabulkan permohonan mutasi tempak kerja tadi tapi dengan satu syarat mengikat: harus tetap bekerja sebagai bagian dari kepanjangan kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Untuk itu Raja pun membuat Surat Keputusan mengenai Perpindahan Domisili bagi leluhur Dodo, dan
Pada abad ke-9 Masehi, keturunan leluhur Dodo mendapat tawaran belajar ke luar negeri, tepatnya
Akan tetapi leluhur Dodo tidak langsung menerima tawaran tersebut, malah memohon, “Sekiranya kelak keturunan kami memiliki kepandaian yang mengagumkan Tuanku Baginda Raja Balaputradewa, perkenankanlah kiranya keturunan kami itulah yang kelak melaksanakan tugas suci yang Tuanku Baginda Raja Balaputradewa berikan saat ini.”
Mendengar penolakan secara rendah hati tersebut, Raja Balaputradewa terpaksa menerimanya. Sebab, bagaimanapun, leluhur Dodo masih menunjukkan sikap hormat dan taat melalui penyerahan keturunanannya kelak yang akan mengemban tugas itu. Untuk mengikat sikap penuh pengabdian tersebut Raja membuat Surat Keputusan yang isinya antara lain, “Apabila kelak ada salah seorang keturunannya (leluhur Dodo) memang pandai dan cakap, diwajibkanlah kepada raja untuk mengirimkannya belajar ke luar negeri.” Setelah menerima salinan
Tetapi ada satu hal rupa-rupanya tanpa pernah diketahui sejak raja terdahulu, yaitu Dapunta Hyang Sri Jayanaga, hingga keturunannya ke-sekian bahkan oleh sang guru besar berikutnya, yaitu Dharmakirti, bahwa dalam keseharian di rumah dalam lingkungan kerajaan maupun setelah tinggal di Palembang leluhurnya tetap bertradisi Jawa serta menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi antar anggota keluarga. Kata pujian khas sehari-hari, “Kampang!” selalu tereduksi menjadi sedemikian halus dan bermartabat, yakni “Asu”.
B. Sekilan Sajalah Sekarang
Yohanes Widodo alias Dodo alias Mas Boi sudah kembali ke tanah air, khususnya
Mengenai studi tingkat lanjut dan beasiswanya, seharusnya merupakan bagian dari sebuah kilas balik atas sejarah para leluhurnya karena sesungguhnya bukanlah berita baru yang patut dihebohi oleh khalayak seantero jagad lelembut. Sejarah berabad-abad terulang lagi, seperti yang telah tertulis.
Dalam kitab sejarah nasional
“Nalanda itu jaman baheula banget.
Perhatikan kata “Belanda” dan “Nalanda”, seperti kata “Bangka” yang berasal dari kata “Vangka” atau “Wangka” (bahasa Sansekerta) yang terpahat pada Prasasti Kota Kapur (Sriwijaya Foundation, 686 M). Suku kata pertama, “Be-” dan “Na-“ memang berbeda, namun dua suku kata di belakangnya sama, “-landa”. Tidak mustahil leluhur Dodo sudah memiliki visi jauh (12 abad!) perihal pendidikan tingkat lanjut yang kelak akan dialami oleh keturunan mereka.
Yang tak kalah menariknya, seorang ahli bahasa hantu juga pernah membedah korelasi antara kata “Belanda” dan “Nalanda”. Dari penelitiannya mengenai kata tersebut dia menemukan bahwa “NALANDA” ternyata sebuah akronim dari “Nedherland ALias BeLANDA”. Apakah memang memiliki korelasi historis-fiktif, ataukah sebuah kebetulan belaka? Tentu saja hal tersebut tidak usah susah-susah dicari benang merahnya karena cuma suatu kepercumaan.
C. Sejengkol Sejigong
Dari abad ke-7 hingga abad ke-21 sekarang, atau selama 14 abad, tidak patut dianggap sebagai sebuah perjalanan sejarah yang singkat apalagi instan. Dalam sejarah leluhur Dodo, prediksi, proyeksi, prospeksi dan visi-de javu telah menjadi semacam diskusi keluarga besar. Sesuatu yang biasa dalam ramalan para pemikir, misalnya Aristoteles, Socrates, Plato, dan lain-lain yang menulis sesuatu yang bersifat abadi.
Yohanes Widodo,
*******
Gang Jablay, Februari 2009
*) Jelas sekali tulisan ini murni versi Agustinus “Gus Noy” Wahyono, yang bukan ahli sejarah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar